Sejarah Sumedang dari masa ke masa (696- 1950)

Sejarah Sumedang dari masa ke masa (696- 1950)
Ilustrasi

Fenomenanews.com,- BAGIAN 1 Hung Ahung Sampurasun. Tak terasa bulan depan Sumedang berusia ke 443 tahun titik mangsa Hari Jadi Sumedang diambil dari tanggal penyerahan mahkota kerajaan Pajajaran yaitu mahkota Binokasih ke Sumedang pada tanggal 22 April 1578 pada masa Ratu Pucuk Umun kemudian Pangeran Angkawijaya di angkat menjadi raja Sumedang Larang dengan gelar Prabu Geusan Ulun. Dalam rangka Hari Jadi Sumedang saya kembali akan mengulas Sejarah Sumedang dari masa Kerajaan Tembong Agung (696) sampai masa Bupati Tumenggung Singer (1945) sejarah Sumedang ini diambil dari buku Insun Medal Insun Madangan Sumedanglarang yang diterbitkan tahun 2008 dan buku sejarah Sumedang Nyukcruk Galur Mapay Laratan Sumedanglarang yang akan dipostingkan secara bersambung. Buku Sejarah Sumedang pun sudah dibuat secara digital link nya saya akan berikan setelah semua peristiwa sejarah di ulas. Sejarah Sumedang terbagi 7 Fase : 1. Fase masa Kerajaan Tembong Agung ( 696 - 721 ) 2. Fase masa Kerajaan Sumedang Larang. ( 721 - 1601 ) 3. Fase masa Mataram ( 1601 - 1706 ) 4. Fase masa Kompeni VOC ( 1706 - 1773 ) 5. Fase masa Bupati Penyelang ( 1773 - 1791 ) 6. Fase masa Pemerintahan Hindia Belanda ( 1791 - 1946 ) 7. Fase masa Republik Indonesia ( 1946 - 1950 ). Kata SUMEDANG berasal dari kata inSUn MEdal insun maDANGan yang kemudian di singkat menjadi kata Sumedang. Kata Insun Medal insun Madangan diucapkan oleh Prabu Tajimalela ketika bertapa di Gunung Cakrabuana pendalam Ilmu Kasumedangan, arti kata Insun Medal Insun Madangan berarti "Aku lahir berikan penerangan ". SEJARAH SUMEDANG BAGIAN 1 MASA KERAJAAN TEMBONG AGUNG. Penelusuran kembali “Nyukcruk Galur” jejak-jejak kehidupan masa lampau terutama masa kerajaan sepenuhnya tergantung pada tinggalan budaya baik itu berupa artefak maupun situs-situs yang ada. Sumedang bagian dari Tatar Sunda barang tentunya memilki kekayaan budaya yang beragam khususnya berupa peninggal-peninggalan masa lampau. Keberadaan kerajaan – kerajaan di Sumedang sudah tercatat dalam berbagai kitab kuno seperti Carita Parahiyangan dan Catatan Bujangga Manik (1473). Selain itu mengenai raja-raja Sumedang tercatat pula di kitab Waruga Jagat, Carita Ratu Pakuan, Pustaka Rajya-Rajya I Bhuni Nusantara Parwa III Sarga 2 (1682), Kropak 410 dan Pustaka Nagara Kretabhumi Parwa I Sarga 2 (1694). Dalam Carita Parahiyangan bahwa sekitar kaki Gunung Tompo Omas (Tampomas) terdapat sebuah kerajaan yang bernama Medang Kahiyangan 252 – 290 (+ terletak di antara Kec. Conggeang dan Kec. Buah Dua). Raja-raja Medang Kahiyangan merupakan keturunan Raja Salakanagara ke lima dari Prabu Dharma Satya Jaya Waruna Dewawarman (251 – 289) menantu Dewawarman IV, sangat disayangkan catatan sejarah Kerajaan Medang Kahiyangan hampir tidak banyak diceritakan dalam Carita Parahiyangan, sedangkan peninggalan masa Medang Kahiyangan banyak tersebar di Gunung Tampomas. Dan dalam catatan Bujangga Manik disebutkan pula bahwa sekitar daerah Cipameungpeuk terdapat sebuah Kerajaan bernama Sumedanglarang , Selain terdapat kedua kerajaan tersebut, di sebelah selatan Sumedang pun terdapat kerajaan yang bernama Medang Sasigar pada abad ke-17 yang terletak diantara Bandung dan Parakanmuncang. Dari semua kerajaaan tersebut Sumedanglarang yang lebih menonjol dalam lintasan sejarah Sumedang, dalam perkembangannya Sumedang membujur dari timur ke barat dari Citembong Agung Girang sampai Regol Wetan. Dari peninggalan tersebut banyak mitoslogi / historiografi tradisional yang berkembang di masyarakat Sumedang. Awal keberadaan Sumedanglarang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan Kerajaan Galuh. Setelah Kandiawan atau Rajaresi Dewaraja (597 – 612) raja Kendan ketiga mengundurkan diri dari tahta Kerajaan Kendan, lalu menjadi Resi di Layuwatang daerah Kuningan. Sebagai penggantinya ia menunjuk puteranya yaitu Wretikandayun yang waktu itu menjadi Rajaresi di Menir. Wretikandayun (612 – 702) dinobatkan sebagai raja Kendan pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 534 Saka atau 23 Maret 612 M. Ketika dinobatkan Wretikandayun berusia 21 tahun. Setelah dinobatkan sebagai raja Wretikandayun mendirikan Ibukota baru yang diberi nama Galuh (permata) yang terletak diantara dua sungai yaitu Citanduy dan Cimuntur. Wretikandayun menikah dengan puteri Resi Makandria yang bernama Manawati setelah menjadi permaisuri bergelar Candraresmi. Dari pernikahan tersebut Wretikandayun mempunyai tiga orang putera, yaitu Sempakwaja (620), Jantaka (622) dan Amara / Mandiminyak (624). Sempakwaja mempunyai dua orang putera, yaitu Purbasora (643) dan Demunawan (646) yang kelak menurunkan raja-raja kerajaan Sunda, sedangkan Jantaka dikenal sebagai Resiguru di Denuh atau dikenal pula sebagai Resiguru Wanayasa atau Rahiyang Kidul, mempunyai seorang putera yaitu Aria Bimaraksa yang lahir + tahun 653, yang kemudian jadi Patih Galuh pada masa pemerintahan Prabu Purbasora. Aria Bimaraksa dikenal pula sebagai Ki Balangantrang, setelah pensiun dari Patih Galuh dikenal sebagai Sanghyang Resi Agung yang kemudian menurunan raja-raja Sumedanglarang, dan putera bungsu Wretikandayun yang bernama Amara / Mandiminyak yang merupakan putera mahkota kerajaan Galuh kelak menurunkan raja-raja di tanah Jawa. • KERAJAAN TEMBONG AGUNG Berdasarkan sumber historiografi tradisional cikal bakal berdirinya kerajaan Sumedanglarang berawal dari kerajaan Tembong Agung (Tembong artinya nampak dan Agung artinya luhur). Berdirinya kerajaan Tembong Agung sangat erat kaitannya dengan kerajaan Galuh Pakuan yang didirikan oleh Wretikandayun (612 - 702) , sedangkan kerajaan Tembong Agung didirikan oleh Prabu Guru Haji Aji Putih (696 – 721) . Setelah terjadinya perebutan kekuasaan di Galuh pada masa Sanjaya (723 – 732) dengan Purbasora yang dimenangkan oleh Sanjaya. Ki Balangantrang berhasil meloloskan diri dari pasukan Sunda pada malam pembinasaan Purbasora oleh Sanjaya kemudian tinggal Geger Sunten (sekarang kampung Sodong Desa Tambaksari Kecamatan Rancah, Ciamis). Ki Balangantrang berserta pengikutnya berupaya menghimpun kekuatan untuk merebut kembali Galuh dari tangan Sanjaya. Sebagai patih kawakan dan cucu Wretikandayun, Balangantrang mudah memperoleh pengikut dan pendukung, akhirnya Ki Balangantrang berhasil mendekati cicitnya Manarah, melalui tangan Manarah ini Ki Balangantrang berhasil merebut Galuh kembali, serangan dilakukan ketika diadakan acara sabung ayam (panyawungan) kerajaan. Ketika akan melangsungkan persiapkan serangan ke Galuh, putra Ki Balangantrang yaitu Guru Aji Putih mendirikan kerajaan Tembong Agung di Sumedang. Setelah berhasil merebut Galuh, tahta kerajaan diserahkan kepada Manarah dan Ki Balangantrang / Aria Bimaraksa pesiun sebagai patih Galuh kemudian tinggal bersama putranya. Ki Balangantrang mempunyai beberapa orang anak yang salah satunya Guru Aji Putih yang dilahirkan pada tahun + 675 M . Pada tahun 696 M, Prabu Guru Aji Putih awalnya mendirikan padepokan di Citembong Agung Girang Kp. Cileuweung Kecamatan Ganeas Sumedang kemudian pindah ke kampung Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja kemudian mendirikan kerajaan Tembong Agung. Prabu Guru Aji Putih hasil pernikahan dengan Dewi Nawang Wulan (Ratna Inten) memiliki empat orang putra; yang sulung bernama Batara Kusumah atau Batara Tuntang Buana yang dikenal juga sebagai Prabu Tajimalela diperkirakan lahir + tahun 700 M, yang kedua Sakawayana alias Aji Saka, yang ketiga Haris Darma dan yang terakhir Jagat Buana yang dikenal Langlang Buana. Dalam Kitab Waruga Jagat bahwa Prabu Guru Aji Putih merupakan putra kedua dari Ratu Komara / Mundingwangi keturunan Baginda Syah, putra Nabi Nuh yang ke-10 dari permaisurinya ke dua, sedangkan putra sulungnya yaitu Prabu Permana. Kemunculan kerajaan Tembong Agung mulai diperhitungkan oleh kerajaan lain, Tembong Agung mendapat pengakuan dan dukungan penuh dari Galuh, sebab Dewi Nawang Wulan adalah keponakan dari Prabu Purbasora selain kedudukan Aria Bimaraksa sebagai Maha Patih mempunyai peranan penting di Galuh sehingga memberikan pengaruh yang besar kepada Tembong Agung, selain itu pengakuan diberikan pula Demunawan penguasa kerajaan Saung Galah, Demunawan merupakan putera dari Sempakwaja. Setelah menyerahkan kerajaan Tembong Agung kepada putranya Prabu Tajimalela, Prabu Guru Aji Putih menjadi resi di Kabuyutan Citembong Girang Kp. Cileuweung Ds. Ganeas Kecamatan Ganeas. Dalam Babad Darmaraja diceritakan setelah mengetahui adanya agama baru (Islam) yang hampir mirip dengan agama Sunda maka Prabu Guru Aji Putih berangkat menuju Mekkah untuk menpendalam Agama Islam, sehingga Prabu Guru Aji Putih dikenal juga sebagai Prabu Guru Haji Aji Putih atau Haji Purwa Sumedang yang berarti orang Sumedang pertama berangkat Haji. Prabu Guru Haji Aji Putih menciptakan beberapa karya sastra yang bernafaskan Islam salah satunya Ilmu Kacipakuan, Sir Budi Cipta Rasa, Sir Rasa Papan Raga, Dzat Marifat Wujud Kula, Maring Purbawisesa, Terahwisesa, Ratu Galuh, Lailaha Ilalloh Muhammadarosulullaoh…..( Getaran jiwa adalah untuk menciptakan perasaan, perasaan untuk menghidupkan jasmani. Dzat untuk mengetahui diri sendiri, untuk mendekatkan diri dengan Tuhan pencipta alam semesta, untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan dan mengetahui hati nurani, Cahaya Hati / Nurani….). Setelah wafat Prabu Guru Haji Aji Putih dimakamkan di Situs Astana Cipeueut terletak di Kampung Cipeueut Desa Cipaku Kecamatan Darmaraja Sumedang. Makam Prabu Guru Haji Putih terletak tak jauh dari makam ayahnya Sanghyang Resi Agung dan Dewi Nawang Wulan istrinya. SITUS TEMBONG AGUNG . Situs Tembong Agung berada di Kp. Muhara Desa Leuwi Hideung Kecamatan Darmaraja merupakan situs peninggalan Prabu Adji Putih (678 – 721 M) Raja Kerajaan Tembong Agung yang kemudian diteruskan oleh Prabu Tajimalela (721 – 778 M) dengan kerajaan Hibar Buana kemudian berganti menjadi Sumedanglarang. Pada situs ini terdapat bekas Alun-alun Kerajaan Tembong Agung / Sumedanglarang dengan ciri Pohon Kiara Besar yang telah berusia ratusan tahun dan terdapat juga situs Pasir Limus yang terletak di atas bukit, pada area situs ini terdapat beberapa makam salah satunya makam Mbah Buyut Jamanggala yang merupakan Senapati dari Tajimalela. Pada Situs Pasir Limus dipercaya sebagai tempat Karaton berada sedangkan alun-alun kerajaan berada dibawah sebelah selatan yang terpisah oleh Sungai Citembong. Pada situs Pasir Limus pun terdapat beberapa makam (lihat Makam keturunan leluhur Sumedang yg terkena proyek Jatigede). Kampung Muhara terdiri dari tujuh rumah yang berjejer dari selatan ke utara, dari dulu sampai sekarang di kampong Muhara tetap terdiri dari tujuh buah rumah. Pada bekas alun-alun yang ditandai dengan pohon kiara dan terdapat Sumur Cikahuripan. BERSAMBUNG.... Tabe Pun. Mugia Rahayu ***Asep elan